Pakar Lingkungan UI Minta Kembalikan Ekosistem Pantai Reklamasi Jakarta

Kategori: Berita
Diterbitkan: 24 November 2017
Ditulis oleh gilang Dilihat: 4

 

Reklamasi adalah kegiatan meningkatkan manfaat sumber daya lahan, yang ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurukan dan pengeringan lahan. Reklamasi juga dapat disebut sebagai penimbunan areal dalam skala relatif luas hingga sangat luas di daratan maupun di perairan untuk rencana tertentu.

Pro kontra kembali mencuat, terlebih dengan dicabutnya moratorium reklamasi Teluk Jakarta beberapa waktu lalu jelang pelantikan Gubernur DKI Jakarta. Para aktivis lingkungan, sejarahwan, budayawan, pakar tata kota, sejumlah masyarakat sipil dan nelayan merasa dirugikan dengan adanya reklamasi tersebut. Untuk itulah, Seri Kajian Akhlak Lingkungan kali ini mengambil tema “Reklamasi Teluk Jakarta, Analisis Kelayakan Kelanjutan Pulau C & D” yang digelar Majelis Lingkungan Hidup PWM DKI Jakarta di Kampus FT UMJ Jakarta, Kamis 23 November 2017.

Hadir dalam Diskusi tersebut Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia yang juga merupakan Ketua Perhimpunan Cendekiawan Indonesia DR. Hasroel Thayib. APU menyampaikan agar kasus Reklamasi di Jakarta menimbulkan polemik , diperlukan langkah langkah ekstrim untuk menghindari kejadian terjadi kembali dengan meminta pengembang mengembalikan lingkungan seperti semula. Namun tentunya ini cara lain tentunya bisa dilakukan dengan kajian yang lebih mendalam pemanfaatan pulau reklamasi yang mendukung daya lingkungan lestari.

 

“Kontroversi tentang reklamasi Teluk Jakarta ini menyimpan banyak masalah besar yang serius. Pertama, betapa proyek ini begitu dipaksakan dengan menabrak peraturan perundangan yang berlaku, mengabaikan  aspek lingkungan dan kepentingan kehidupan nelayan. Dari aspek lingkungan reklamasi Teluk Jakarta jelas berpotensi besar memperparah banjir di daratan Jakarta, merusak ekosistem laut, pencemaran perairan Pantai Utara Jakarta dan Kepulauan Seribu. Di sisi lain, pengerukan pasir untuk timbunan pulau reklamasi di kawasan Pulau Seribu, Banten dan daerah lainnya menjadi problem lingkungan serius yang tak kalah besar bahaya kerusakan yang ditimbulkannya. Setidaknya di kalangan akademisi kelayakan proyek ini masih penuh perdebatan. Kedua, Praktek reklamasi ini bertentangan dengan prinsip pembangunan yang harus mengedepankan kepentingan rakyat. Proyek ini hanya akan menguntungkan pengembang, pemilik modal dan segelintir orang. Artinya proyek ini hanya akan dinikmati oleh kelompok elit. Sementara rakyat banyak justru makin kesulitan, terutama rakyat dan nelayan di Pantai Utara Jakarta dan Kepulauan Seribu,” papar Andi Fajar Asti, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia.

Sementara itu, Moestaqiem Dahlan (Ketua MLH PWM DKI Jakarta) menegaskan bahwa “seharusnya pemerintah memiliki political will untuk memenuhi ekspektasi masyarakat terhadap pelayanan publik dan peningkatan ekonomi, dalam kasus reklamasi Teluk Jakarta ini”.

Di sisi lain reklamasi Teluk Jakarta ini mengandung banyak ancaman, antara lain (1) memperparah kualitas air, sedimentasi, konsentrat alga beracun dan ancaman banjir Jakarta (2) mengancam ekosistm terumbu karang dan kadar oksigen (3) mengakumulasi logam berat dan meracuni biota laut yang biasa dikonsumsi (4) penggusuran hunian nelayan di pesisir pantai, tandas Moestaqiem.

Moestaqiem yang juga aktif di Walhi DKI Jakarta sangat berharap bahwa “pulau yang sudah terlanjur dibangun harus dicarikan solusi pemanfaatannya dengan baik dan janganlah terus memaksakan beban kepada DKI Jakarta dengan menambah wilayah, karena menambah wilayah melalui pembangunan pulau-pulau buatan akan membutuhkan daya dukung infrastruktur tambahan. Jika terus begini, pembangunan dan perputaran ekonomi akan terus menumpuk di DKI Jakarta, paparnya.

 

Dalam upaya memberikan masukan yang konstruktif, Majelis Lingkungan Hidup PWM DKI Jakarta akan melakukan secara rutin setiap bulan yang diberi judul “Serial Kajian Akhlak Lingkungan”. (hidayat tri).

 

KPK Dorong Jabar Canangkan Penyelamatan SDA

Kategori: Berita
Diterbitkan: 21 November 2017
Ditulis oleh gilang Dilihat: 14

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam melakukan pembenahan di sektor sumber daya alam, salah satunya tata kelola air di kawasan hulu. Hal ini dilakukan dengan pencanangan Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam (GNP SDA) di Gedung Sate, Jalan Diponegoro No. 22, Citarum, Bandung, Jawa Barat pada Jumat (10/12).

 

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, ada tujuh fokus kegiatan GNSPDA di Jabar, yakni pertama, penataan Izin Usaha Pertambangan (IUP). Dalam hal ini, akan dilakukan pencabutan/penghentian kegiatan IUP non CNC dan penyampaian secara terbuka kepada publik, serta memproses CNC IUP tahap berikutnya dengan menggunakan semua kriteria.

Kedua, monitoring penggunaan air tanah yang akan memfokuskan pada pendataan penggunaan air tanah dan penegakan hukum pelanggaran penggunaan air tanah. Ketiga, koordinasi dan supervisi pengelolaan kawasan hulu sungai (Citarum-Ciliwung-Cisadane-Cimanuk).

“Pada kegiatan ini, akan dilakukan pemetaan masalah pengelolaan kawasan hulu sungai dan membangun sinergi pada pelaksanaan langkah strategis untuk penyelesaiaan permasalahan pengelolaan kawasan hulu sungai,” papar Saut.

Keempat, monitoring pencemaran lingkungan hidup, khususnya yang dilakukan oleh Industri di Jawa Barat, serta berkoordinasi untuk penegakan hukumnya. Kelima, memantau penggunaan kawasan khusus di Jawa Barat dan melakukan penataan atas penggunaannya.

Keenam, memantau penggunaan kawasan pesisir pantai terhadap kemungkinan kerusakan dan pencemaran. Terakhir, penggunaan kawasan kehutanan dan perkebunan.
“Terhadap pelanggaran hukum yang terjadi, KPK juga berkoordinasi untuk melakukan upaya penegakan hukum,” katanya. 

Menurut Saut, pencanangan ini bertujuan untuk berupaya seoptimal mungkin mencegah kerusakan sumber daya alam dan memastikan keberlanjutan daya dukung sumber daya alam di wilayah Jawa Barat. Selain itu, “KPK juga mendorong penegakan hukum pelanggaran dan kejahatan lingkungan hidup dan menutup celah terjadinya tindak pidana korupsi dan tindak pidana lainnya di sektor sumberdaya,” katanya.

Ini dilakukan, atas sejumlah persoalan mendasar, di antaranya salah satu sumber daya yang melimpah di Jawa Barat adalah air, dengan 40 Daerah Aliran Sungai (DAS) dan waduk/danau. Ironisnya, hal ini mengalami ancaman serius terkait pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan limbah industri, limbah domestik, perambahan hutan, dan praktik pertanian (hortikultura) di hulu DAS yang tidak ramah lingkungan.

 

Selain itu, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup juga disebabkan oleh pencemaran udara dari gas buang kendaraan bermotor dan industri. Kondisi tersebut tentu saja merugikan, tidak hanya mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya air, melainkan juga pada seluruh tatanan kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat serta tidak sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

 

Dampak nyata dari pencemaran lingkungan tersebut adakah cepat rusaknya peralatan PLTA yang semula 20 tahun, berkurang menjadi lima tahun serta meningkatnya biaya produksi industri karena perlunya pengolahan air sebelum dipergunakan dalam proses produksi dan terancamnya kelangsungan pasokan pangan dari lumbung pangan Nasional.  

 

Upaya penyelamatan sumber daya alam di wilayah Jabar, tidak akan berhenti pada kegiatan pencanangan saja. Rencananya, KPK bersama para pemangku kepentingan akan merumuskan rencana aksi hingga akhir Februari ini. Selanjutnya, pada Maret-Juni merupakan tahap implementasi dari program yang telah disepakati bersama.

 

Adapun rencana aksi kegiatan, akan difokuskan pada mendorong kepatuhan dan penyelamatan bersama Sumber Daya Alam di Jawa Barat dari aspek pengelolaan tata ruang, aspek Tata kelola, aspek perencanaan, pengawasan, pengendalian dan penegakan hukum, serta aspek kelembagaan pemerintah terkait.

Selain pimpinan KPK, kegiatan ini juga dihadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan beserta jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Jawa Barat dan DPRD Provinsi Jabar.

Dalam sambutannya, Heryawan mengatakan, paradigma dalam memanfaatkan sumber daya alam, seharusnya menjaga lingkungan. dan tanpa kerusakan SDA. Ia berharap dalam pengelolaan sumber daya alam, diperlukan ketegasan. 

“Misalnya mengenai kehutanan, jika ada kebakaran hutan maka Polhut tidak berdaya. Lahan milik negara dan perkebunan dirambah, disewa-sewakan oleh preman ke masyarakat,” katanya. 

Selain itu, ia juga berharap adanya keseimbangan dalam tata kelola sumber daya alam, termasuk tata kelol air. Ia mencontohkan, triliunan rupiah uang yang dihasilkan dari Sungai Citarum, namun hanya sedikit yang kembali untuk mengurus dan mengelola sumber daya alam yang ada. 

“Harua ada keseimbangan. Kombinasi konservasi dengan pembangunan harus seimbang,” katanya.

 

(Humas)

 

Malas Gerak Jadi Salah Satu Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

Kategori: Berita
Diterbitkan: 19 November 2017
Ditulis oleh gilang Dilihat: 22

Anda mungkin sedang membaca tulisan ini sambil bersantai di tempat duduk atau sambil tiduran di kasur. Mungkin Anda juga sudah duduk atau tiduran sejak beberapa jam lalu. Cobalah untuk mengingat-ingat, kapan Anda bangkit dari tempat duduk dan melakukan aktivitas fisik tertentu?

Jika Anda kesulitan mengingatnya, bisa jadi Anda adalah salah satu dari ratusan juta penduduk dunia yang menjalani gaya hidup sedentari atau yang sering juga disebut malas gerak (mager).  

Gaya hidup sedentari adalah pola perilaku manusia yang minim aktivitas atau gerakan fisik. Biasanya mereka yang menjalani gaya hidup sedentari adalah pekerja kantoran yang hampir sepanjang hari duduk di balik meja kerja.

Perjalanan menuju kantor dari rumah pun biasanya ditempuh dengan kendaraan umum atau pribadi yang berarti juga duduk sepanjang jalan. Sesampainya di rumah setelah bekerja seharian, banyak pekerja kantoran yang langsung beristirahat di sofa, kasur, atau kursi malas untuk melepas lelah.

Belum lagi jika Anda sering memanfaatkan layanan pembelian barang, makanan, atau jasa secara online, pesanan langsung diantar ke depan pintu rumah.

Selain itu, banyak orang saat ini memilih untuk mengakses layanan perbankan online, misalnya untuk transfer uang atau membayar tagihan. Sementara pada zaman dahulu, orang harus berjalan keluar rumah untuk menyelesaikan berbagai urusan tersebut.

Inilah yang menyebabkan generasi muda sering dicap sebagai orang-orang yang malas gerak.

Malas gerak adalah kebiasaan yang perlu diubah. Namun, bagi beberapa orang kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas harian sehingga mereka terlanjur merasa nyaman.

Anda mungkin memang tak akan merasakan langsung risiko dari gaya hidup sedentari. Dampak dari gaya hidup sedentari baru akan mulai terasa bertahun-tahun setelah Anda terbiasa menjalani rutinitas tersebut.

Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, gaya hidup sedentari adalah salah satu dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. Selain itu, data yang dilaporkan oleh European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) pada tahun 2008 menunjukkan bahwa kematian akibat kebiasaan malas gerak jumlahnya dua kali lebih banyak dibandingkan kematian karena obesitas.

Jika gaya hidup sedentari diikuti dengan pola makan yang tidak seimbang dan kebiasaan tidak sehat seperti merokok atau minum alkohol, Anda pun berisiko mengalami lebih banyak masalah kesehatan.

Walau kadang tidak disadari, kebanyakan duduk seharian dan kurang bergerak berdampak secara langsung pada kesehatan. Berikut adalah berbagai risiko yang harus diperhatikan jika Anda termasuk orang yang malas gerak.

1. Konsentrasi menurun

Ketika seseorang bekerja sambil duduk, tulang belakang akan jadi tegang karena terlalu lama membungkuk atau melengkung. Oleh karenanya, paru-paru tidak akan mendapatkan ruang untuk mengembang cukup besar.

Jika paru-paru terimpit, seluruh tubuh akan menerima kadar oksigen yang lebih sedikit, apalagi karena sirkulasi juga akan terganggu kalau tidak cukup bergerak. Kurangnya oksigen yang diterima otak bisa menyebabkan turunnya konsentrasi. Bekerja pun jadi lebih sulit dan tidak fokus.

2. Meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung

Sebuah studi yang dilakukan oleh Aerobics Research Center di Amerika Serikat menunjukkan bahwa aktivitas fisik mampu mengurangi risiko stroke pada pria hingga sebesar 60 persen.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Nurses’ Health Study membuktikan bahwa wanita yang cukup bergerak atau beraktivitas fisik memiliki peluang terhindar dari stroke dan serangan jantung sebesar 50%.

Maka, orang yang terlalu sering duduk bekerja atau bermalas-malasan di depan layar komputer memiliki risiko cukup besar mengalami stroke.

3. Gangguan fungsi kognitif

Mereka yang menjalani gaya hidup sedentari atau malas gerak cenderung lebih mudah mengalami berbagai gangguan fungsi kognitif dalam jangka panjang. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan fungsi otak menurun.

Aktivitas fisik mampu merangsang aliran darah yang penuh oksigen menuju otak serta memperbaiki sel dan jaringan otak yang mulai rusak. Bergerak dan berolahraga juga akan menumbuhkan berbagai sel saraf baru dalam otak. Hal ini membuat otak semakin tajam dan daya ingat semakin kuat.

4. Menyebabkan resistensi insulin

Kalau Anda menghabiskan kira-kira 70 persen dari waktu seharian dengan duduk dan tiduran, Anda berisiko mengalami resistensi insulin. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya kadar gula dalam darah sehingga peluang terserang diabetes pun meningkat.

Apalagi, biasanya sambil duduk atau tiduran, orang-orang cenderung mencari camilan yang kurang sehat. Camilan tersebut bisa jadi mengandung gula yang sangat tinggi, misalnya es krim, permen, cokelat, atau minuman kemasan yang manis.

5. Memicu osteoporosis

Tubuh manusia sudah dirancang sedemikian rupa untuk terus bergerak secara aktif agar bisa bertahan diri. Otot dan tulang harus dilatih setiap hari agar tetap sehat dan kuat. Kebiasaan malas gerak akan membuat tubuh kehilangan massa otot. Kepadatan tulang juga akan berkurang drastis.

Jika dibiarkan, kondisi tersebut akan mengarah pada osteoporosis. Akibatnya, menjalani aktivitas sehari-hari pun jadi lebih sulit karena Anda semakin lemas dan cepat lelah.

Cara mudah memaksa tubuh untuk bergerak lebih banyak

Anda bisa menghindari risiko-risiko yang diakibatkan oleh kebiasaan malas gerak dengan cara meningkatkan aktivitas fisik sehari-hari. Simak berbagai trik supaya Anda tetap bisa memenuhi kebutuhan gerak tubuh setiap hari meskipun Anda harus bekerja di hadapan layar komputer.

  • Cari standing desk atau meja yang cukup tinggi supaya Anda bisa bekerja sambil berdiri jika sudah kelamaan duduk di kursi
  • Sambil mencari ide atau inspirasi saat bekerja, Anda bisa berjalan kaki mengitari gedung kantor atau di sekitar meja kerja Anda selama beberapa menit
  • Jika Anda naik kendaraan umum seperti kereta atau bus, usahakan untuk berdiri daripada duduk sepanjang perjalanan
  • Parkir kendaraan atau turun dari kendaraan umum di perhentian yang lebih jauh dari biasanya, lalu berjalan kakilah menuju kantor
  • Daripada memesan barang-barang di toko online, pergilah dan berburu barang-barang yang Anda cari di pusat perbelanjaan
  • Sempatkan untuk berolahraga selama satu jam setiap hari, baik di pagi hari atau sepulang kerja
  • Membersihkan rumah bisa menjadi aktivitas fisik yang cukup berat, misalnya menyapu, mengepel lantai, atau mencuci pakaian dengan tangan

Artikel ini sudah pernah tayang di Kompas.com dengan judul Malas Gerak, Salah Satu Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

(Wisnubrata/Kompas.com)

Sumber foto : Tribune News

 

15.000 Ilmuwan Beri Peringatan mengenai Bencana yang Mengancam Bumi

Kategori: Berita
Diterbitkan: 18 November 2017
Ditulis oleh gilang Dilihat: 23

Inggris (Independent) – Baru-baru ini telah muncul sebuah surat peringatan yang berasal dari 15.000 ilmuwan dari seluruh penjuru dunia. Surat yang ditujukan pada seluruh umat manusia tersebut berisikan pesan peringatan bahwa saat ini kondisi planet Bumi sudah kian memburuk.

Sebelumnya, sebuah surat dengan isi pesan yang sama pernah ditulis oleh 1.700 ilmuwan yang berasal dari Union of Concerned Scientists pada 25 tahun yang lalu. Namun bila dibandingkan dengan kondisi saat ini, kondisi Bumi pada tahun 1992 masih jauh lebih baik. Satu-satunya perubahan baik yang terjadi pada Bumi sejak 25 tahun terakhir hanyalah adanya pengurangan luas lubang pada lapisan ozon. Sisanya, seluruh ancaman bagi muka Bumi menjadi semakin memburuk.

Dalam surat yang bertajuk Warning to Humanity tersebut, para ilmuwan mencetuskan bahwa saat ini manusia sedang menghadapi ancaman kepunahan. Adanya ancaman kepunahan tersebut disebabkan oleh terus menyusutnya sumber daya alam yang ada di muka Bumi ini. Sayangnya, para ilmuwan, awak media, dan masyarakat masih belum bisa berbuat banyak untuk melawan hal tersebut.

Jika Bumi dibiarkan rusak begitu saja, bencana berupa hilangnya berbagai keanekaragaman hayati tidak akan bisa dihindari lagi. Selain itu, berbagai bencana lain seperti pemanasan global, deforestasi, kepunahan spesies secara massal, hingga kurangnya akses terhadap air bersih juga akan terjadi dan tentunya dapat menyebabkan kesengsaraan yang tidak berujung bagi manusia.

Dalam surat tersebut, terdapat pula sebuah pesan yang menunjukkan bahwa sebenarnya harapan untuk menyelamatkan Bumi masih ada. Namun, harapan tersebut diwujudkan oleh sedikit orang. Padahal bila bencana sudah terjadi, waktu dan nasib sudah tidak bisa diputarbalikkan kembali.

Melalui surat tersebut, para ilmuwan berkata, “Bila bencana sudah terjadi, kita tidak bisa memutar balik waktu dan kita sudah kehabisan waktu untuk menyelamatkan diri. Setiap saat, kapan pun dan di mana pun kita berada, kita harus selalu ingat bahwa Bumi adalah satu-satunya rumah bagi kita.”

Seorang ilmuwan dan pakar ekologi dari Universitas Negeri Oregon (OSU) Amerika Serikat, Profesor William Ripple, menyatakan bahwa manusia kini sedang diperingati untuk kedua kalinya. Saat ini, manusia sedang membahayakan dirinya sendiri karena terus menerus mengeruk hasil bumi secara tidak bertanggung jawab. Selain itu, populasi manusia juga semakin meningkat dan hal tersebut tidak berimbang dengan kondisi geografis yang ada. Hal itulah yang menjadi pendorong utama di balik banyaknya ancaman ekologis dan ancaman sosial.

“Dengan gagal membatasi pertumbuhan penduduk, menilai pertumbuhan ekonomi, mengurangi gas ‘rumah kaca’, melindungi habitat, memulihkan ekosistem, mengurangi polusi, menghentikan penurunan satwa dan memaksa spesies invasif, manusia belum melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi biosfer kita yang makin terancam,” ungkap William.

Para ilmuwan mencatat, sejak 25 tahun terakhir Bumi telah mengalami banyak perubahan. Jumlah debit air bersih berkurang sebanyak 26 persen, 300 juta hektar hutan telah menghilang, populasi manusia meningkat hingga 35 persen, suhu Bumi meningkat, populasi fauna menurun hingga 29 persen, dan masih banyak lagi.

 

Adanya peringatan tersebut diharapkan dapat membuka kesadaran seluruh penduduk dunia terhadap kondisi Bumi saat ini. Melalui surat peringatan ini juga, diharapkan perdebatan tentang perubahan iklim dapat segera dihentikan. Perubahan iklim merupakan hal yang nyata, dan itu telah dibuktikan dengan begitu banyaknya bencana alam yang sudah terjadi akhir-akhir ini

 

sumber : greeners.co/berita/15-000-ilmuwan-beri-peringatan-mengenai-bencana-mengancam-bumi/

Sumber foto: Liputan 6.com

 

Lifting Minyak Turun, Pemerintah dan Swasta Beda Teori

Kategori: Berita
Diterbitkan: 26 Mei 2015
Ditulis oleh gilang Dilihat: 701

Jakarta (Greeners) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said mengakui bahwa saat ini permasalahan utama di Indonesia terkait energi khususnya perminyakan adalah kemampuan dalam memproduksi minyak.

Padahal, menurut Sudirman, industri perminyakan merupakan penyumbang pendapatan negara dan juga menjadi pertumbuhan ekonomi yang kontribusinya sangat besar. Secara kualitatif, dalam 10 tahun terakhir, sektor tersebut mampu menyumbang sekitar 21 persen dari penerimaan negara.

Oleh sebab itu, katanya lagi, sangat diperlukan adanya infrastruktur, Sumber Daya Manusia (SDM) dan biaya yang besar untuk menggali potensi migas yang masih banyak tersimpan di laut untuk meningkatkan produksi minyak Indonesia.

Lifting minyak ini terus mengalami penurunan hingga 849 ribu barel per hari (bph) dalam APBNP 2015. Padahal industri ini merupakan penyumbang pendapatan negara yang kontribusinya sangat besar,” katanya, Senin (25/05).

Di lain sisi, President Director PT Medco Energy Internasional Tbk, Lukman Mahfoedz mengungkapkan pendapat yang berbeda. Menurutnya, penurunan produksi minyak di Indonesia juga disebabkan oleh kondisi alam yang semakin sulit.

Lukman menambahkan, kondisi pertambangan migas saat ini berbeda dengan kondisi dahulu, dimana produksi minyak bisa mencapai diatas satu juta barel perhari karena memang kondisi alamnya memungkinkan dan tidak memerlukan teknologi canggih. Sangat berbeda dengan saat ini dimana cadangan migas baru lebih banyak terdapat di laut dalam.

“Menemukan minyak semakin lama semakin sulit di Indonesia, bukan karena peraturannya saja tapi karena lokasinya lebih sulit,” ujar Lukman saat menghadiri The 39th Indonesia Petroleum Association Convention & Expo, di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Jumat (22/05) lalu.

Lebih lanjut, Lukman yang juga mantan presiden Indonesia Petroleum Association (IPA) menyatakan, untuk mengejar target produksi dibutuhkan keseriusan pemerintah dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) selaku pemain di lapangan. Menurut Lukman, dengan kondisi yang semakin sulit tersebut, sudah pasti dibutuhkan biaya besar dan teknologi canggih.

“Perlu disadari juga, dalam lima tahun terakhir, cadangan migas yang ditemukan itu kecil-kecil meskipun banyak. Saat ini produksi hanya 800 ribu barel, itu saja dari 370 lapangan. Kita masih belum mendapatkan temuan yang besar karena adanya di laut dalam di sebelah timur,” tukasnya.

Penulis: Danny Kosasih

 

Source from: http://www.greeners.co/berita/lifting-minyak-turun-pemerintah-dan-swasta-beda-teori/

 

Halaman 1 dari 102

Login Form

Berita Terpopuler

Prev Next

Aspek Iklim dalam Perencanaan Perkotaan

Gambar 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi iklim perkotaan (Sumber: Sebastian Wypych...

INDONESIA DALAM ISU KELAUTAN DAN PERUBAH…

Bersamaan dengan perundingan pada sidang ke-30 badan-badan subsider UNFCCC (United Nations...

KEBUN BOTANI : UPAYA MELESTARIKAN KEKAYA…

Tidak lama lagi kita harus mengimpor benih kayu dari Malaysia atau Thailand karena tak ada...

Kota Hijau Tanpa Transportasi

Oleh Isyana Artharini Perdebatan soal perubahan iklim di Indonesia masih berkutat soal...

Beda Sarjana dengan Cendekiawan

Oleh: Prof Emil Salim Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia merupakan wadah bagi...

Kita Butuh UU Lingkungan Hidup?

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP, DALAM TATA KELOLA PE...

LANGKAH KOMITMEN ENVIRO- MASTERPLAN PEMB…

Oleh: Raldi H Koestoer Langkah Komitmen Hijau: •Komitmen Enviro/Hijau–Pembangunan Hijau ...

Menhut: Selamatkan Hutan Perlu Aksi, Jan…

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengingatkan, upaya penyelamatan hutan memerlukan aksi...

DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UNTUK PENATAAN RU…

•Adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan mahluk hidup ...