Jakarta (Greeners) – Kota tua Jakarta memang telah dicanangkan sebagai salah satu destinasi wisata utama Jakarta oleh Kementerian Pariwisata. Namun sayangnya, hingga saat ini penyediaan toilet publik yang bersih dan layak pakai masih sulit sekali ditemui di lokasi yang sedang mencoba mendapatkan pengakuan sebagai Situs Bersejarah Dunia atau World Heritage Site dari UNESCO ini.

Padahal, toilet publik yang bersih dan layak pakai merupakan salah satu infrastruktur dasar yang harus dibangun oleh sebuah kota, selain penyebrangan jalan yang aman, taman kota yang rapi, dan jalur pedestrian yang nyaman bagi semua warganya.

Project Director dari PT Pembangunan Kota Tua Jakarta, Yayat Sujatna saat ditemui oleh Greeners di kantornya mengakui, saat ini masih sangat sedikit akses penyediaan toilet publik di kawasan kota tua. Sekalipun ada, terangnya, bukankah toilet milik publik melainkan toilet yang terletak di dalam institusi sendiri seperti di cafe, museum maupun minimarket.

Yah coba saja lihat sekarang, kalau ditanya ke pengunjung secara random (acak) pasti bilang susah mencari toilet di sini,” terangnya, Jakarta, Sabtu (14/02).

Jakarta atau yang sebelumnya dikenal sebagai Batavia, dahulu dirancang dan dibangun oleh Jan Pieterszoon Coen berdasarkan konsep “kota ideal” dengan tiap sudut kotanya memiliki benteng yang menonjol keluar. Kota Batavia pada zaman itu dipagari oleh benteng (tembok tinggi) yang di dalamnya terdapat banyak kanal. Untuk wilayah Kota sendiri terbagi menjadi dua bagian, barat dan timur, yang dipisahkan oleh Sungai Ciliwung. Sayang, kanal-kanal itu banyak yang berganti rupa atau kalaupun ada, airnya keruh karena limbah dan sampah.

“Nah, rintisan untuk memperbaiki Jakarta menjadi kota ideal itu salah satunya dengan menggelar pameran ini,” ujarnya. Pameran yang dimaksud adalah pameran Art & Toilets: Bringing Back The Glory of The Past di Galeria Fatahillah, Gedung Kantor Pos Lantai 2, Kawasan Kota Tua, Jakarta.

Sketsa toilet publik yang dipamerkan dalam Art & Toilets: Bringing Back The Glory of The Past di Galeria Fatahillah, Jakarta. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Sketsa toilet publik yang dipamerkan dalam Art & Toilets: Bringing Back The Glory of The Past di Galeria Fatahillah, Jakarta. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Pameran ini sendiri, terang Yayat, telah resmi dibuka pada Selasa (3/2/2015) lalu. Dalam acara ini dihadirkan seni lukisan yang menghubungkan antara masa lalu dan masa kini, dari awal berdirinya Batavia hingga menjadi Jakarta. Selain itu, pameran yang akan berlangsung hingga 3 Mei 2015 ini juga bertujuan memperkenalkan program pemerintah, yakni revitalisasi kawasan Kota Tua.

“Revitalisasi tersebut dimulai dari memperbaiki sanitasi. Jadi, selain seni, toilet menjadi tema yang dimunculkan dalam pameran. Membenahi Kota Tua tidak hanya dengan melakukan pameran seni, tetapi juga membenahi prasarana dasar seperti toilet itu,” tuturnya.

Dengan adanya pameran ini, Yayat berharap Pemerintah Provinsi maupun masyarakat yang datang berkunjung dapat lebih peduli untuk mendukung dan menjaga keindahan serta kebersihan destinasi bersejarah ini.

Menurut Yayat, terdapat tujuh titik di kawasan Kota Tua Jakarta yang akan direvitalisasi oleh beberapa arsitek yang tergabung dalam sebuah konsorsium Jakarta tersebut. Ketujuh titik tersebut di antaranya, Taman Fatahillah, Gedung Kantor Pos, Gedung Kertaniaga, tempat melangsungkan konferensi di dalam Gedung Kertaniaga, Gedung Cipta Niaga, gedung dan lahan di dekat Jembatan Batu, dan yang terakhir sculpture garden berupa pedestrian dan ruang publik terbuka.

“Dalam rencananya juga, ketujuh titik ini dapat dirampungkan kurang lebih hingga dua tahun mendatang dan dua sampai tiga titik di antaranya direncanakan rampung dalam waktu dekat,” pungkasnya.

(G09)

 

Source from: http://www.greeners.co/news/kejar-pengakuan-unesco-kota-tua-jakarta-lakukan-revitalisasi/

Login Form

Berita Terpopuler

Prev Next

Aspek Iklim dalam Perencanaan Perkotaan

Gambar 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi iklim perkotaan (Sumber: Sebastian Wypych...

INDONESIA DALAM ISU KELAUTAN DAN PERUBAH…

Bersamaan dengan perundingan pada sidang ke-30 badan-badan subsider UNFCCC (United Nations...

KEBUN BOTANI : UPAYA MELESTARIKAN KEKAYA…

Tidak lama lagi kita harus mengimpor benih kayu dari Malaysia atau Thailand karena tak ada...

Kota Hijau Tanpa Transportasi

Oleh Isyana Artharini Perdebatan soal perubahan iklim di Indonesia masih berkutat soal...

Beda Sarjana dengan Cendekiawan

Oleh: Prof Emil Salim Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia merupakan wadah bagi...

Kita Butuh UU Lingkungan Hidup?

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP, DALAM TATA KELOLA PE...

LANGKAH KOMITMEN ENVIRO- MASTERPLAN PEMB…

Oleh: Raldi H Koestoer Langkah Komitmen Hijau: •Komitmen Enviro/Hijau–Pembangunan Hijau ...

Menhut: Selamatkan Hutan Perlu Aksi, Jan…

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengingatkan, upaya penyelamatan hutan memerlukan aksi...

DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UNTUK PENATAAN RU…

•Adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan mahluk hidup ...