Walhi Kritisi Rencana Pembangunan Pabrik Semen Dalam Kawasan Ekosistem Leuser

Kategori: Berita
Diterbitkan: 06 April 2015
Ditulis oleh gilang Dilihat: 549

Jakarta (Greeners) – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh mengkritisi rencana pembangunan pabrik semen oleh PT. Tripa Semen Aceh di dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Kampung Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang.

Direktur Walhi Aceh, M. Nur, mengatakan, kegiatan penambangan bahan baku semen dan pembangunan serta pengoperasian pabrik semen oleh PT Tripa Semen Aceh diperkirakan akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan di sekitarnya. Terlebih kawasan yang digunakan sebagian besar merupakan bagian dari KEL.

“Ditakutkan ini akan berdampak pada terancam atau bahkan punahnya keselamatan ekosistem yang ada dalam KEL,” jelas Nur dalam keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Sabtu (04/04).

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa Aceh Tamiang saat ini sudah digempur oleh kegiatan perkebunan sawit, illegal logging dan kegiatan lainnya yang menurunkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, terutama untuk pemenuhan sumber air bersih bagi penduduk. Nur pun meminta kepada pemerintah untuk mengkaji dengan teliti proses analisis dampak lingkungan (Amdal) sebelum pabrik semen milik PT. Tripa Semen Aceh tersebut dibangun.

“Warga akan kehilangan lahan perkebunan atau pertanian, kemudian masyarakat akan membuka lahan baru dalam kawasan hutan yang saat ini belum tersentuh. Akhirnya, konflik pun tidak terelakkan,” tandasnya.

Penulis: Danny Kosasih

 

source from: http://www.greeners.co/berita/walhi-kritisi-rencana-pembangunan-pabrik-semen-dalam-kawasan-ekosistem-leuser/

 

Biodiversity Warrior Geledah Keragaman Hayati Jakarta

Kategori: Berita
Diterbitkan: 30 Maret 2015
Ditulis oleh gilang Dilihat: 577

Jakarta (Greeners) – Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) melalui gerakan anak mudanya Biodiversity Warriors bekerjasama dengan Komunitas Peta Hijau Jakarta, Fakultas Biologi Universitas Nasional, dan beberapa organisasi lain ingin melihat kembali potensi yang dimiliki oleh ruang terbuka hijau di Jakarta melalui kegiatan Cap (na) ture.

Kegiatan ini adalah upaya memperbaharui peta hijau di Jakarta yang telah dibuat sebelumnya beberapa tahun yang lalu. Melalui peta tersebut akan digali potensi keanekaragaman hayatinya. Meskipun menjadi salah satu kota yang memiliki polusi dan populasi cukup tinggi, ibukota negara ini seharusnya masih menyimpan beragam spesies unik dan menarik di ruang-ruang terbuka hijaunya.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan muncul apresiasi masyarakat terhadap ruang terbuka hijau, sehingga ada kesadaran untuk menjaga bahkan menambah luasannya,” kata Direktur Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya, Yayasan KEHATI, Sinaryatie Saloh, Sabtu (28/3)

Sebagai kegiatan awal Cap (na) ture, pada Sabtu 28 Maret 2015 di Universitas Nasional diadakan workshop “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibu Kota”. Dalam workshop tersebut para peserta dikenalkan dengan keanerakagaman hayati di wilayah perkotaan berserta fungsinya, dilatih menulis dan fotografi sebagai modal untuk ikut berpartisipasi dalam membuat peta hijau Jakarta, dan dikenalkan dengan komunitas-komunitas yang memiliki kegiatan erat dengan pelestarian keanekaragam hayati di Jakarta.

“Kami berharap pelatihan ini dapat memberikan pemahaman pada generasi muda tentang keanekaragaman hayati di perkotaan dan mampu membekali mereka dengan kemampuan dasar menulis dan fotografi untuk menyebarluaskan informasi tentang pentingnya ruang terbuka hijau dan keanekaragaman hayati di dalamnya,” ujar Ahmad Baihaqi, salah satu Biodiversity Warriors pengagas Cap (na) ture.

Sebagai informasi, aktivitas utama dari Biodiversity Warriors adalah untuk menyebarluaskan informasi tentang keunikan, manfaat, atau fungsi dari keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia.

Sementara itu, Ady Kristanto dari Komunitas Peta Hijau Jakarta mengatakan bahwa mengumpulkan data potensi keanekaragaman hayati yang melibatkan masyarakat umum (citizen scientist) sudah dilakukan di beberapa negara di Eropa dan Amerika. Salah satu bentuk pendataan tersebut adalah sistem peta hijau.

“Sistem peta hijau adalah sebuah bentuk pemetaan potensi suatu wilayah yang melibatkan masyarakat ke dalam suatu peta dengan simbol-simbol yang menampilkan keterkaitan antara masyarakat dan lingkungannya,” jelas Ady.

Tujuan peta ini adalah untuk menciptakan cara pandang baru bagi warga kota untuk menikmati kotanya, menjadi panduan wistawan untuk menikmati potensi alam sebuah kota, membantu warga untuk menjelajahi dan mengenali suatu kota, dan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk dapat ikut bertanggung jawab terhadap lingkungan. (G03/SR)

 

Source from: http://www.greeners.co/aksi/biodiversity-warrior-geledah-keragaman-hayati-jakarta/

 

Pengelolaan Taman Nasional di Indonesia Masih Belum Maksimal

Kategori: Berita
Diterbitkan: 30 Maret 2015
Ditulis oleh gilang Dilihat: 624

Jakarta (Greeners) – Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Meski demikian, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Eka Soegiri mengakui secara teknis dan manajemen, pengelolaan taman nasional di Indonesia memang masih harus terus ditingkatkan agar dapat mencapai hasil yang lebih baik.

Ia mengungkapkan, peningkatan pengelolaan taman nasional diperlukan karena sering terjadinya gangguan di taman nasional, seperti adanya perambahan hutan, perburuan satwa langka, dan konflik dengan penduduk akibat adanya klaim bahwa lahan di dalam taman nasional adalah milik komunitas yang berada di sana.

“Hal lain adalah adanya pembangunan infrastruktur antara lain jalan, jembatan maupun instalasi lainnya yg masuk ke taman nasional. Ini tentu memerlukan kesepahaman semua pihak,” jelasnya saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Jumat (27/03).

Menurut Eka, perlu dibentuk task force atau tim gugus tugas yang berkaitan dengan klaim ataupun pengaduan masyarakat agar aduan bisa cepat ditangani dan diselesaikan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dengan mengedepankan aspek-aspek kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, dibutuhkan adanya upaya membangun model desa konservasi di luar taman nasional agar mereka (masyarakat di sekitar taman nasional) bisa merasakan manfaat dari taman nasional tanpa harus masuk dan mengganggu ekosistem yang ada.

“Upaya itu bisa dilihat di Sarongge di Taman Nasional Gede pangrango ataupun di desa desa sekitar Taman Nasional Komodo, maupun di sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jendral Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdon Nababan berpendapat lain. Kepada Greeners ia menyatakan bahwa jika dilihat secara umum, pengelolaan taman nasional di Indonesia masih jauh dari kata baik. Masih banyaknya kasus penebangan hutan dan konflik yang luar biasa yang terjadi pada masyarakat adat di wilayah Taman Nasional, menurutnya, memperlihatkan buruknya kualitas pemerintah dalam mengelola Taman Nasional.

Masyarakat adat, lanjutnya, saat ini masih menjadi korban dari pola represif yang dilakukan pemerintah, padahal pola tersebut menjadi sumber konflik antara pemerintah dan masyarakat adat. Abdon juga mengatakan bahwa selama ini masyarakat adat hanya menjadi penonton dalam upaya konservasi taman nasional.

“Sistem konservasi berbasis hak seharusnya menjadi prioritas. Tidak bisa masyarakat adat diusir seenaknya hanya karena fungsi taman nasional membuat mereka jadi tergusur,” tegasnya.

Menurut Abdon, taman nasional di seluruh Indonesia sebaiknya dirancang ulang atau dibangun kembali bersama masyarakat adat dan masyarakat lokal yang berada di dalam dan di sekitar taman nasional. Hal ini harus segera dilakukan untuk mengurangi konflik dan mengefektifkan manajemen kawasan yang sedang berjalan saat ini.

Sebagai informasi, Indonesia memiliki kawasan taman nasional yang jumlahnya 50 unit dengan luas diperkirakan mencapai 16.375.253,31 hektare. Selain taman nasional, Indonesia juga memiliki 535 unit kawasan konservasi, yaitu kawasan penyangga cagar alam (249 unit), taman wisata alam (124 unit), penyangga suaka margasatwa (77 unit), taman hutan raya (21 unit), dan taman buru (14 unit). Dari keseluruhan potensi tersebut, 81 persen berada di daratan dan sisanya, 19 persen, ada di perairan.

Penulis: Danny Kosasih

 

Source from: http://www.greeners.co/berita/pengelolaan-taman-nasional-di-indonesia-masih-belum-maksimal/

 

Tiga Hal Penting Dalam Membangun Kota A la Ridwan Kamil

Kategori: Berita
Diterbitkan: 30 Maret 2015
Ditulis oleh gilang Dilihat: 683

Jakarta (Greeners) – Walikota Bandung, Ridwan Kamil berbagi pandangannya dalam menilai kelebihan sebuah kota agar menarik wisatawan baik lokal maupun asing. Menurutnya, ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh masyarakat maupun pemerintah daerah jika ingin kotanya terbangun dengan baik.

Pertama, sebuah kota harus memiliki tempat yang unik. Maksudnya, ujar pria yang akrab disapa Emil ini, saat ini wisatawan sudah keranjingan dengan fotografi. Mereka tidak hanya menyimpan foto tersebut, namun juga mempublikasikannya di sosial media sehingga tersebar luas dan bisa menarik lebih banyak wisatawan untuk datang.

“Misalnya tempat-tempat menarik seperti taman kota atau tempat unik yang khas kota tersebut,” jelasnya saat menjadi pembicara pada ajang Creativepreneur Corner di Jakarta, Sabtu (28/03).

Selanjutnya, terang Emil, wisatawan juga suka datang pada sebuah pagelaran acara atau event-event menarik di sebuah kota. Melalui event, masyarakat bisa mempromosikan sebuah kota bahkan hingga ke mancanegara.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, bersama dengan pelajar melakukan Gerakan Pungut Sampah.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, bersama dengan pelajar pada Event/Aksi Gerakan Pungut Sampah.

Terakhir, tambahnya, orisinalitas. Emil mengakui, kemanapun wisatawan pergi pada akhirnya para wisatawan tersebut pasti mencari orisinalitas di sebuah kota yang mereka kunjungi. Ia memberi contoh, seperti wisata alam, budaya atau memanfaatkan kearifan lokal sebagai orisinalitas yang dicari oleh wisatawan.

“Lihat Jember, sekarang punya festival berkelas dunia. Semua dibutuhkan orisinalitas itu tadi,” jelasnya.

Selain tiga hal tadi, tambah Emil, penggunaan sosial media juga sangat dibutuhkan sebagai strategi marketing. Kenapa? Tambahnya, karena dunia digital mampu menembus batas dunia dan digunakan oleh jutaan manusia.

Penulis : Danny Kosasih

 

Source from: http://www.greeners.co/berita/tiga-hal-penting-dalam-membangun-kota-ala-ridwan-kamil/

 

Hari Hutan Internasional, KLHK Ajak Masyarakat Tanam Pohon

Kategori: Berita
Diterbitkan: 25 Maret 2015
Ditulis oleh gilang Dilihat: 700

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka memperingati Hari Hutan Internasional yang dirayakan setiap tanggal 21 Maret, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengaku sangat berkomitmen terhadap pengurangan laju deforestasi hutan di Indonesia. Terlebih, Presiden Joko Widodo juga telah berkomitmen untuk melanjutkan upaya pengurangan emisi sebesar 26 persen hingga tahun 2020.

Oleh karena itu, untuk kembali menghutankan Indonesia, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bidang Revitalisasi Industri Kehutanan, Bedjo Santoso pun mengajak masyarakat untuk ikut dalam kegiatan menanam pohon dimanapun masyarakat berada dan turut pula dalam melestarikan hutan tersebut.

“Mari kita galakan gerakan menanam pohon di lingkungan kita masing-masing karena jika pohon itu dirawat maka ia akan dapat berkontribusi terhadap penurunan tingkat emisi gas rumah kaca secara global,” jelasnya di Jakarta, Senin (23/03).

Dalam rangka merayakan Hari Hutan Internasional tersebut pula, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan beberapa pihak menyelenggarakan kegiatan penanaman pohon di kawasan kampus Universitas Indonsia, Depok pada tanggal 28 Maret 2015 mendatang.

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Perubahan Iklim Universitas Indonesia, Jatna Supriatna mengatakan kalau kegiatan penanaman Hutan Kota di Universitas Indonesia tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap implementasi UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai dengan apa yang ditargetkan oleh Pemerintah Kota, yaitu 30 persen RTH dari luas wilayah kota.

Selain itu, pemilihan lokasi penanaman di Hutan Kota Universitas Indonesia, menurut Jatna, juga dipandang sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pembangunan Hutan Kota sebagai wahana rekreasi dan pendidikan lingkungan bagi masyarakat terutama pelajar. Ditambah lagi, Hutan Kota Universitas Indonesia termasuk salah satu hutan kota terbaik yang ada di Jakarta.

“Nantinya ada empat sekolah yang akan ikut terlibat dalam kegiatan ini, yaitu Sekolah Citra Alam Ciganjur, Sekolah Alam Indonesia Cipedak, Sekolah Semut-Semut dan Sekolah Dasar Ricci II, Bintaro. Mereka akan berperan dalam penanaman dan perawatan hutan ini,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Program Pelestarian dan Pemanfaatan Berkelanjutan Yayasan Kehati, Teguh Triono, menyatakan, dengan melibatkan generasi muda dalam mengenalkan keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan maka para generasi tua nantinya akan mampu menitipkan harapan terhadap kelestarian hutan tersebut terhadap mereka.

“Nanti akan ada lebih dari 60 jenis pohon yang sudah besar untuk ditanam. Ada pohon meranti dan beberapa jenis buah langka seperti kemang, kepel, kupa gowok dan banyak lainnya. Ini akan sangat bermanfaat bagi penyerahan estafet pelestarian hutan kepada generasi muda untuk masa mendatang,” tandasnya.

Sebagai informasi, dalam penyelenggaraan kegiatan penanaman pohon di Hutan Kota Universitas Indonesia pada tanggal 28 Maret 2015 nanti, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga bekerjasama dengan Universitas Indonesia, Yayasan Kehati, Garuda Indonesia, GIZ-Forclime, Multistakeholder Forestry Programme, Korea-Indonesia Forest Center, Perum Perhutani dan I-Radio.

Penulis: Danny Kosasih

 

Source from: http://www.greeners.co/berita/hari-hutan-internasional-klhk-ajak-masyarakat-tanam-pohon/

 

Login Form

Berita Terpopuler

Prev Next

Aspek Iklim dalam Perencanaan Perkotaan

Gambar 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi iklim perkotaan (Sumber: Sebastian Wypych...

INDONESIA DALAM ISU KELAUTAN DAN PERUBAH…

Bersamaan dengan perundingan pada sidang ke-30 badan-badan subsider UNFCCC (United Nations...

KEBUN BOTANI : UPAYA MELESTARIKAN KEKAYA…

Tidak lama lagi kita harus mengimpor benih kayu dari Malaysia atau Thailand karena tak ada...

Kota Hijau Tanpa Transportasi

Oleh Isyana Artharini Perdebatan soal perubahan iklim di Indonesia masih berkutat soal...

Beda Sarjana dengan Cendekiawan

Oleh: Prof Emil Salim Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia merupakan wadah bagi...

Kita Butuh UU Lingkungan Hidup?

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP, DALAM TATA KELOLA PE...

LANGKAH KOMITMEN ENVIRO- MASTERPLAN PEMB…

Oleh: Raldi H Koestoer Langkah Komitmen Hijau: •Komitmen Enviro/Hijau–Pembangunan Hijau ...

Menhut: Selamatkan Hutan Perlu Aksi, Jan…

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengingatkan, upaya penyelamatan hutan memerlukan aksi...

DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UNTUK PENATAAN RU…

•Adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan mahluk hidup ...