Muhammadiyah Senantiasa Menanamkan Agama dan Pemahaman Lingkungan

Kategori: Liputan
Ditayangkan: 21 April 2018
Ditulis oleh gilang Dilihat: 59

Mengangkat tema “Sinergisitas Dan Penguatan Program Untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam yang Berkelanjutan”, Rapat Koordinasi Nasional Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi dibuka oleh Ketua PP Muhammadiyah Agus Taufiqurahman, Jumat (20/4/2018) di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar.

Ketua MLH PP Muhammadiyah Prof. Muhjidin Mawardi, M.Eng.mengatakan dalam sambutannya bahwa “Muhammadiyah menganggap isu lingkungan sebagai permasalahan yang harus dihadapi dan diberikan solusi menghadapainya. Karenanya Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MLH PPM) dibentuk untuk menjalankan berbagai program dalam meningkatkan kualitas lingkungan yang lebih baik”, ujarnya.

Rakornas ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan pengelolaan berbagai program-program secara lebih efektif dan efisien, dengan titik berat untuk meningkatkan  peran MLH baik di Pusat, Wilayah dan Daerah dalam kepedulian terhadap aksi penyelamatan lingkungan guna mendukung pencapaian target Muhammadiyah dalam hal lingkungan serta memastikan keberlanjutan dan sinergisitas program majelis lingkungan di daerah/region.

 Kita bersyukur beberapa MLH Pimpinan Muhammadiyah Wilayah/Daerah telah merumuskan dan mengaplikasi program-program konkrit untuk penyelmatan lingkungan seperti Sekolah Sungai Muhammadiyah (SSM) yang diinisiasi PWM DIY, Sekolah Sedekah Sampah oleh PSLHK UMM, KKN Tematik Lingkungan Hidup oleh UMMI, Gerakan Shodaqoh Sampah berbasis Masjid oleh MLH PDM Kota Yogyakarta, Sekolah Tangguh Bencana oleh MLHPB PWM Jawa Timur, Pengelolaan Gedung Ramah Lingkungan oleh MLH PWM Sulsel,  Pengembangan Pengelolaan Hutan Pendidikan oleh UM Palangkaraya, Gerakan Menanam Pohon Produktif oleh MLH PDM Kota Bekasi, Gerakan Hijau Masjidku dan Bersih Udaraku oleh MLH PWM Sultra, Gerakan Memanen Air Hujan oleh MLH PDM Kota Yogyakarta, Sekolah Kader Lingkungan oleh MLH PWM Jawa Barat dan masih banyak gerakan-gerakan penyelamatan lingkungan yang dilakukan Muhammadiyah lainnya.

 Semua itu membuktikan bahwa “MLH PP Muhammadiyah senantiasa akan menanamkan pemahaman dalam memperlakukan bangunan, udara, air, sungai, sampah, limbah dan energi serta memeliharanya secara baik dan benar bukan hanya secara pemahaman lingkungan tetapi juga agama”, tandas Prof. Muhjidin yang juga Guru Besar UGM ini.

Dalam Rakornas ini ditrekankan pentingnya penguatan perbaikan dan pengelolaan lingkungan melalui Pendidikan Lingkungan, dalam kesempatan ini juga dilaunching Buku Panduan Implementasi Audit Lingkungan Mandiri Muhammadiyah (ALiMM), yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kondisi dan pengelolaan bangunan dan lingkungan sekitarnya sehingga dampak merusak pada lingkungan hidup dapat diminimalisasi dan untuk menjaga kesehatan manusia dan ekosistem” (hidayat tri).

 

 

 

 

MUNAS III Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia: Atur Tata Ruang Nusantara

Kategori: Liputan
Ditayangkan: 19 April 2018
Ditulis oleh gilang Dilihat: 373

Jakarta 9 April 2018, Dalam rangka penyelenggaraan Musyawarah Nasional Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia (Perwaku), Dewan Pengurus Nasional melakukan audiensi dan tukar pikiran mengenai rencana penyelenggaraan Munas ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dr.ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. Dalam pertemuan tersebut Perwaku memberikan masukan kepada pemerintah terkait tata ruang  dan konsep kehutanan Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup  dan Kehutanan sangat merespon dan menerima semua masukan dari unsur masyarakat. "Kami sangat terbuka dengan masukan, terlebih lagi jika organisasi seperti perwaku mampu memberikan landasan sesacara saintifik"ungkap menteri KLKH. Sambutan yang hangat dari kementerian berlanjut dengan kesedian  menteri KLHK menjadi bagian penasehat Perhimpnan Cendekiawan Lingkunan Hidup yang di dirikan oleh prof. Emil salim, Prof. Koesnadi Hardjasoemantri (mantan Rektor UGM), Prof. Retno, Prof. Herman Heruman dan sejumlah nama lainnya.

Munas yang sedianya dilaksanakan pada tanggal 28 April 2018 sekaligus menyambut hari bumi, mengagendakan seminar yang menghadirkan tema lingkungan di mata agama dan kepercayaan dengan pemateri perwakilan masing masing seperti MLH Muhammadiyah, PB NU, Kongres Wali Gereja Indonesia, Persekuuan Gereja Indonesia (PGI),  Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Parisada Budha Dharma Indonesia (PBDI), masyarakat Konghuchu (MATAKIN) serta beberapa tokoh lokal. Kehadiran tokoh agama dan lokal ini tentunya akan memberikan gambaran bagaimana agama memeandang lingkngan sebagai satu kesatuan dalam menjalankan agama dan kepercaaannya. Juga kan memberikan gambaran  usaha usaha yang telah dilakukan guna menjaga kelestarian lingkungan di Indonesia.

Acara juga akan diisi seminar tentang penegakan hukum Lingkungan dengan Menghadirkan Baresskrim Polri, Dirjen Penegakan Hukum, Dr. Drajat Wibowo, Mas ahmad Santoso dan prof. Jatna. Pada sesi ini tentunya kita akan mendapatkan gambaran sejauh mana pemangku kebijakan melaksanakan penegkan hukum atas kerusakan lingkungan oleh orang perorang dan koorporasi.

Acara yang sedianya akan di buka oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada hari sabtu, 28 April 2018 dilanjutkan dengan mendengarkan pembicara kunci prof. Dr. Emil salim selaku Ketua Dewan pendiri PERWAKU.

 

 

 

Parisada Hindu Dharma Indonesia dan Perwaku Menanam Pohon Bersama

Kategori: Liputan
Ditayangkan: 27 Februari 2018
Ditulis oleh gilang Dilihat: 162

 

Bogor, Masyarakat Hindu Indonesia yang tergabung dalam Parisada Hindu Dharma Indonesia  (PHDI)  mengadakan penanaman pohon disekitar Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Gunung Salak, Minggu 26 Februari 2018. Acara tersebut merupakana  rangkaian perayaan  Nyepi Tahun Baru Saka 1940 yang diisi dengan acara Yoga bersama, Penyuluhan Anti Penyalahgunaan Narkotika, Donor Darah  dan penanaman 1500 pohon.

Dalam sambutan ketua Umum Panitia Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1940, Laksda TNI I Nyoman Gede Ariawan yang dibacakan oleh Marsekal Pertama TNI. Nyoman Trisantoso, "penanaman pohonatau penghijauan  ang kita laksanakan pada hari ini adalah merupakan wujud kepedulian kita untuk mrnjaga kesimbangan ekosistem pada lingkungan, sebagai implementasi  daripada ajaran Tri Hita Karana. Seperti yang kita ketahui bersama  Tri Hita Karana mengajarkan  agar kita menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Yang Maha Pencipta (Hyang Widhi), manusia  dengan sesama warga masyarakat dan manusia  dengan alam sekitar."

Hadir dalam acara tersebut pengurus pusat  Parisada Hindu Dharma Indonesia diantaranya Ketua Umum Parisada Mayjend TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, Ketua Bidang organisasi Dr. Wayan Suyasa, dan beberapa tokoh masyarakat Hindu Indonesia diantaranya, Laksmana Pertama TNI. Putu Angga, Drg. Nyoman Suartanu, Kolonel Inf. Nyoman Sukasana. 

Acara penanaman tersebut juga di hadiri oleh Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia (PERWAKU). Hadir dari perwaku nampak Prof. Dr. Ir. Hasroel Thayyeb, Maria Purwanto, Msi dan  L. Budiman. Kehadiran Perwaku dalam rangka membangun komunikasi antar iman dalam melestarikan ingkungan dengan mengedepankan nilai nilai keagamaan dan budaya yang telah tumbuh, berkembang dan mengakar  di masyarakat sebagaimana yang telah dibicarakan pada audiensi antara Perwaku dan PHDI. Pada kesempatan tersebut Prof. Hasroel menyampaiakan untuk menanam tanaman berbuah dengan akar yang kuat agar pohon tersebut menghasilkan makanan dan dapat menjaga ketahanan tanah dari bahaya longsor.

 

 

 

Bumi Memanas, Butuh Triliunan Rupiah untuk Kurangi Kadar CO2

Kategori: Liputan
Ditayangkan: 19 November 2017
Ditulis oleh LB.Galara Dilihat: 195

 

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu masalah terbesar yang dihadapi manusia adalah pemanasan global (global warming). Hal ini salah satunya disebabkan oleh karbon dioksida berlebihan. 

Pasalnya, karbon dioksida membuat lapisan ozon berlubang, panas matahari yang berlebih, es kutub mencair, hingga permukaan air laut meningkat. 

Sejumlah hal di atas menjadi perhatian Profesor Jum Hansen, mantan kepala ilmu iklim di NASA. Hansen bersama timnya melakukan penelitian, dan temuannya ini patut diwaspadai oleh manusia. 

Menurutnya, manusia harus segera mengurangi kadar karbon dioksida sejak dini. Jika tidak, generasi selanjutnya harus memilih untuk menghadapi peristiwa cuaca berbahaya atau menghabiskan triliunan dolar untuk mencegahnya.

Sejauh ini, bumi sudah jauh melampaui batas pemanasan global. Kadar polusi di atmosfer bumi tidak akan mungkin berkurang dalam hidup manusia. Meski begitu, para peneliti mengatakan, kita bisa menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer sekitar 12,5 persen.

Hal ini bisa dilakukan dengan cara sederhana, seperti menanam pohon. Langkah lainnya adalah memanfaatkan teknologi yang fungsinya mirip dengan pohon, yaitu menyerap karbon.

Hasil riset memperkirakan teknologi ini memakan biaya sekitar US$ 535 triliun. Mungkin biaya pengembangan ini mahal. Namun, biaya pencegahan selalu lebih baik daripada biaya mengatasi masalah.

"Melanjutkan emisi bahan bakar fosil yang tinggi dapat membuat generasi selanjutnya mengalami dampak pemanasan yang besar, iklim yang merugikan, atau malah keduanya," tutup Jim.

(Theofilus Ifan Sucipto/Cas)

 

 

Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah dan Perwaku Berjuang Bersama Untuk Lingkungan

Kategori: Liputan
Ditayangkan: 19 November 2017
Ditulis oleh LB.Galara Dilihat: 264

 

Jakarta - Perhimpunan Cendikiawan Lingkungan Indonesia (PERWAKU) pada Rabu, 15 November 2017 melakukan kunjungan silaturrahmi kepada Majelis Lingkungan Hidup Pimpnan Pusat Muhammadiyah. Bertempat di Menteng pertemuan kedua lembaga penggiat lingkungan  juga dihadiri Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DKI Jakarta. Dalam pertemuan tersebut Perwaku dihadiri oleh DR.Ir.M.Hasroel Thayyeb APU, Dra. Erni Abdullah M.Si, Ir. Yennel Suzia, M.Si, Noni Amini SH, M.Si,  Mikhail Gorbachev Dom,S.Si., M.Si,  dan Lukman Budiman. Sementara dari pihak Majelis Lingkungan di hadiri oleh Seretaris MLH PP Muhammadiyah diantaranya DR. Gatot Supangkat, S, MP.,  Azis Abd.Azis Ansari S.IP., Andi Fajar Bakhti, M,Pd, M.Si dan Hidayat Tri Sutardjo, MM.

Majelis Lingkungan Hidup PP, Muhammadiyah dalam visinya mengungkapkan perlunya kajian lingkungan secara objektif, menyeluruh dan berkeadilan sebagai masukan yang akurat kepada pimpinan dan warga Muhammadiyah serta masyarakat pada umumnya. Hal ini tentunya sejalan dengan visi PERWAKU yaitu terwujudnya peradaban masyarakat yang memuliakan lingkungan bagi keberlanjutan kehidupan

Karena itu kedua belah pihak saling menjajaki sinergisitas untuk mewujudkan visi masing masing. Sinergi ini tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya penggiat lingkungan untuk bersama sama mewujudkan  apa yang dicita citakan bersama. Namun terdapat beberapa catatan penting yang dihasilkan dari pertemuan tersebut antara laian:

1. Meningkatkan kerjasama antara CSO sesama penggiat lingkungan untuk memberikan hasil yang maksimal dalam setiap program edukasi, advokasi tentang lingkungan.

2. Berinisiatif untuk mengadakan pertemuan rutin " Indonesia  Environmental Club" sehingga bisa menjadi wadah komunikasi sesama penggiat Lingkungan.

3. Mengadakan Seminar "Catatan Akhir Tahun 2017" tentang Lingkungan.

Hasil pertemuan tersebut menjadi bahan pertimbangan bersama menentukan  pola kerjsama   antara sesama penggiat Lingkungan Hidup.

sementara Wakhi Jakarta dalam  beberapa catatan penting terkait penolakannya terhadap keberlanjutan proyek reklamasi di Teluk Jakarta. Penolakan tersebut akan ditindak lanjut dengan upaya deklari penolakan Reklamasi teluk jakarta  dengan beberapa alumni Perguruan Tinggi dari berbagai kampus.

 

 

 

Halaman 1 dari 12

Login Form

Berita Terpopuler

Prev Next

Aspek Iklim dalam Perencanaan Perkotaan

Gambar 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi iklim perkotaan (Sumber: Sebastian Wypych...

INDONESIA DALAM ISU KELAUTAN DAN PERUBAH…

Bersamaan dengan perundingan pada sidang ke-30 badan-badan subsider UNFCCC (United Nations...

KEBUN BOTANI : UPAYA MELESTARIKAN KEKAYA…

Tidak lama lagi kita harus mengimpor benih kayu dari Malaysia atau Thailand karena tak ada...

Kota Hijau Tanpa Transportasi

Oleh Isyana Artharini Perdebatan soal perubahan iklim di Indonesia masih berkutat soal...

Beda Sarjana dengan Cendekiawan

Oleh: Prof Emil Salim Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia merupakan wadah bagi...

Kita Butuh UU Lingkungan Hidup?

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP, DALAM TATA KELOLA PE...

LANGKAH KOMITMEN ENVIRO- MASTERPLAN PEMB…

Oleh: Raldi H Koestoer Langkah Komitmen Hijau: •Komitmen Enviro/Hijau–Pembangunan Hijau ...

Menhut: Selamatkan Hutan Perlu Aksi, Jan…

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengingatkan, upaya penyelamatan hutan memerlukan aksi...

DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UNTUK PENATAAN RU…

•Adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan mahluk hidup ...